This option will reset the home page of BAMS WONG KLATEN restoring closed widgets and categories.

Reset BAMS WONG KLATEN homepage

Ketua Umum Gerindra Suhardi

Ketua Umum Gerindra Suhardi
Profesor Hutan Masuk Politik

suhardi-gerindraVIVAnews – Di ranah politik Suhardi bukan siapa-siapa. Tapi di kalangan ilmuwan kehutanan dan pertanian, pria kelahiran Klaten,13 Agustus 1952 sudah kondang. Maklum pikiran dan idenya sudah lama bertaburan di kalangan akademisi kehutanan. Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini pernah menjadi Dekan Fakultas Kehutanan tahun 1999. Cuma dua tahun menjabat, dia ditarik pemerintah menjadi Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

Di Jakarta sang profesor baru bersentuhan dengan politik. Bermula dari keprihatinannya terhadap lingkungan dan nasib petani yang selalu bernasib buntung. Dan nasib sial itu adalah takdir dari stuktur ekonomi yang ada. Memperbaiki nasib petani harus didahului perubahan sistem ekonomi.

Dan sistem ekonomi kerap kali ditentukan kekuatan politik. Singkat kata, politik adalah panglima, termasuk menentukan nasib petani. Itu sebabnya pemegang gelar master dan doktor di bidang fisiologi pohon dari University of the Philippines Los Baños (UPLB) ini memutuskan terjun ke dunia politik.

“Saya pernah jadi Dirjen. Usul saya mentah begitu saja. Saya sudah usul, ini jangan impor, pangan jangan impor, ternyata malah impor. Saya merasa dirjen pun ternyata sulit sekali memberikan keputusan. Yang memberikan keputusan di atas. Keputusan pejabat itu ternyata keputusan politik,” kenang Suhardi saat ditemui VIVAnews di sela-sela Rapat Pimpinan Nasional Partai Gerakan Indonesia Raya di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa, 14 Oktober 2008.

Setelah berhenti sebagai Direktur Jenderal, Suhardi aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Suhardi kemudian menjadi Ketua Dewan Pimpinan HKTI Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada saat yang sama, Suhardi juga diminta menjadi staf ahli Dewan Ketahanan Pangan Nasional Departemen Pertanian dari tahun 2002 sampai 2008. Pengalaman di HKTI dan Dewan Ketahanan Pangan Nasional ini membuat rasa frustasi Suhardi semakin menjadi-jadi.

Awal tahun 2007, Suhardi mulai mengajak sejumlah rekannya di HKTI membangun sebuah partai politik baru. Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto, yang saat itu masih tercatat anggota Partai Golkar turut diajaknya. Nama partainya: Partai Petani dan Nelayan. Sejumlah orang-orang dekat Prabowo ikut bergabung dengan Suhardi, meski sang mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu sendiri secara formal tak ikut.

Menjelang verifikasi partai di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Prabowo setuju membantu Suhardi dengan syarat nama partainya harus diganti. Muncullah nama Partai Gerakan Indonesia Raya, dengan Suhardi didaulat sebagai Ketua Umum. Gerindra akhirnya lolos sebagai peserta Pemilu 2009. Dunia pegawai negeri lalu ditinggalkannya. “Saya pun sudah pensiun dini,” tambah Suhardi.

Gerindra dan Prabowo memiliki visi yang sama, memperjuangkan kemandirian pangan dan energi. Dengan kemandirian itu, kemakmuran rakyat meningkat. “Jika kita sudah mandiri, mengapa harus impor?” kata Suhardi yang sering bersepeda dari rumahnya di Depok, Sleman, ketika hendak mengajar di UGM itu.

Selain memimpin Gerindra, Suhardi juga mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Suhardi maju dari daerah Pemilihan Jawa Tengah V dengan nomor urut 1. “Ini yang seru, di situ saya bersaing dengan Puan Maharani (anak Megawati Soekarnoputri) dan Hidayat Nur Wahid (Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat),” kata Suhardi tersenyum.

Disalin dari: vivanews.com

Relevan Tags:

ketua umum gerindra (34), profil ketua umum partai gerindra (20), nama ketua umum partai gerindra (13), prof suhardi (7), suhardi gerindra (6)
iklan

1 Comment

  1. Sri Widyastuti ( Tuti Wartidjan) says:

    Kepada Yth,
    Ketua Umum Partai Gerindra
    Bpk. Prof. DR. Suhardi, M Sc
    di tempat.

    Salam sejahtera

    Perkenankanlah saya mohon maaf apabila terlalu berani mengirim e-mail kepada Bapak, sekitar bulan Januari 2010 saya pernah berkunjung ke kantor Bapak di Jln. Brawijaya IX No. 1 Jak Sel, untuk menanyakan perihal prosedur bila ingin memasukkan proposal. Tapi setelah membaca profil Bapak yang cukup singkat tapi sangat informatif, di website Klaten Online, maka saya merasa mendapat person yang tepat.

    Saya, Sri Widyastuti (Tuti Wartidjan), dari Yogyakarta, sempat kuliah di IKIP Negri Yiogyakarta, tapi akhirnya saya menyelesaikan kuliah di IKIP Negri Bandung, karena mendapat kesempatan bekerja di Divisi UMC (Universal Maintenance Center) PT. IPTN (PT. DI) sebagai Laboratory Technician, hampir 11 thn

    1996 saat booming media TV, saya kemudian alih profesi sebagai Creative Writer di PT. Indosiar Visual Mandiri, hampir 10 thn.

    2005 resign dari Indosiar, karena ingin konsentrasi untuk keluarga, saya wiraswasta membuka resto & gallery, usaha tersebut saya tutup karena saya mengalami musibah kecelakaan.

    2007 saya kembali pada profesi semula sebagai pekerja seni untuk produksi TV Program, di beberapa Rumah Produksi.

    2008 bergabung dengan TV Antara untuk Produksi TV Pogram, dan film dokumenter, saya kebetulan mendapat kesempatan untuk memproduksi di Kawasan Ekosistem Leuser Aceh, Medan, Toba-Samosir, Kota Tua Bekas Tambang Batubara Sawah Lunto, sampai Maninjau.

    2009 sampai sekarang saya gabung di tempatnya Mas Helmy Yahya, sedang memproduksi drama reality show title “Masihkah Kau Mencintaiku” on air di RCTI

    Berkenaan dengan perihal tersebut diatas, perkenankanlah saya mohon ijin apabila Bapak berkenan saya ingin menghadap, untuk sharing mengenai masalah lingkungan, khususnya Kawasan Ekosistem Leuser. Karena saat produksi film dokumenter tersebut saya terjun langsung men direct 2 cameraman Antara, dan didampingi 1 staff Lapangan dari Leuser International Foundation.

    Banyak pengalaman menarik selama melakukan pengambilan gambar di KEL, dan bila ada informasi manarik di KEL, saya masih mendapat informasi dari Public Relation & Media Officer Leuser International Foundation.

    Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga Partai Gerindra tetap akan menjadi mediator yang efektif bagi aspirasi masyarakat, besar harapan saya atas terkabulnya permohonan ini, atas perhatian Bapak saya ucapkan banyak terima kasih.

    Salam saya

    Sri Widyastuti

Leave a Reply