This option will reset the home page of BAMS WONG KLATEN restoring closed widgets and categories.

Reset BAMS WONG KLATEN homepage

Rambutan pun bisa dipetik sendiri di Agrowisata Gedongjetis

buah-rambutanSiapa yang tak ngiler dengan segarnya buah rambutan yang bisa dinikmati dengan memetik langsung dari pohonnya? Di Klaten, kesegaran buah rambutan ini bisa dinikmati di Agrowisata Kebun Rambutan Desa Gedongjetis Kecamatan Tulung.

Hanya dengan Rp 4.000, pengunjung bisa menikmati buah rambutan yang bisa mereka petik sendiri dari pohonnya sesuka hati. Hanya dimakan di tempat itu. Sebab apabila buah yang mereka petik akan dibawa pulang, maka pengunjung harus membayar sesuai banyaknya buah yang akan dibawa. Namun tak kelewat mahal, per kilogramnya hanya Rp 1.700 hingga Rp 2.000.

Kebun rambutan di lahan seluas 20 ha tersebut dirintis warga setempat sejak sepuluh tahun silam. Namun, baru dimanfaatkan sebagai agrowisata sekitar empat tahun lalu. Selain rambutan, di lokasi ini juga terdapat kebun kelengkeng pingpong dan diamond river. Budidaya kelengkeng ini baru berjalan sekitar satu tahun setelah mendapatkan bantuan 350 bibit dari Dinas Pertanian Kabupaten Klaten.

Sebelum menjadi agrowisata kebuh buah, lokasi tersebut dulunya hanya merupakan kebun buah biasa. Pada tahun 1980-an, kebun tersebut ditanami buah jeruk keprok. Namun, tanaman jeruk keprok itu tak bertahan lama karena terserang virus dan akhirnya mati. Oleh warga, kebun tersebut lalu hanya ditanami palawija karena tidak tahu harus ditanami apa selain palawija.

“Suatu hari, ada salah seorang warga yang datang dari Lampung membawa satu truk bibit rambutan aceh. Namun saat itu warga belum tertarik untuk ikut membudidayakan buah rambutan. Setelah berhasil, baru kemudian semua warga ikut-ikutan menanam,” ujar Kepala Dusun II Gedongjetis, Tulung, Siswanto, saat ditemui Espos di kebunnya, Minggu (21/2).

Sebelumnya terisolasi

Diakui Siswanto, warga semula tak pernah berpikir untuk menjadikan kebun buah rambutan ini sebagai tempat wisata. Lagi pula, tiga tahun silam, desa itu masih terisolir karena jalan yang menghubungkan desa lain belum diaspal. Jika ingin keluar desa, warga harus memutar melewati jalan poros Klaten-Boyolali atau jalur alternatif menuju ke Semarang.

Agrowisata itu terbentuk dengan sendirinya seiring diaspalnya jalan desa yang menghubungkan Desa Cokro. Lalu lintas kendaraan di desa ini menjadi ramai. Maklum lokasinya memang tak jauh dari Objek Wisata Permandian Cokro. Saat musim rambutan tiba, warga menjajakan buah rambutan di sepanjang jalan desa, di depan kebun masing-masing.

“Hari Sabtu dan Minggu merupakan hari padatnya pengunjung. Pengunjung tak hanya datang dari Klaten, tapi juga dari luar daerah seperti Boyolali, Sukoharjo dan Solo. Sedangkan dari luar kota Soloraya masih jarang yang mengunjungi tempat ini. Selain belum tersosialisasinya tempat ini di luar masyarakat Soloraya, penataan dan fasilitas lain juga masih perlu ditingkatkan. Seperti tempat beristirahat pengunjung dan sarana hiburan lainnya. Mengingat, jalan di desa ini masih sempit,” papar dia mengisahkan awal terbentuknya agrowisata itu. – Oleh : Panca Okta H

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Rabu, 24 Februari 2010 , Hal.VII


Relevan Tags:

KEBUN RAMBUTAN (50), kebun rambutan klaten (49), lokasi buah rabutan daerah klaten com (20), lokasi kebun rambutan klaten (13), kebun rambutan cokro (12)
iklan

2 Comments

  1. beneran tuh..??
    jadi pingin nyoba metik nih,
    sekalain blajar manjat pohon.
    kalau boleh

  2. wa-one says:

    langsung coba…….

Leave a Reply